Jumat, 19 Agustus 2016

the dormitory of puisi

the dormitory of puisi




Hati yang gelap
Mufidatul fathiyah annabila

Sudahi kesedihan yang membelenggu hatimu
Percaya akan janji-Nya dengan semua kalam-Nya
Kesedihan sementaramu adalah suatu curahan hati
Namun kesedihan yang tiada henti adalah suatu bencana
Bencana yang akan merusak anganmu menjadi sebuah debu

Air mata yang menetes dengan sebuah penyesalan
Penyesalan hati yang tiada berguna
Cukup pelajari dan hilangkan penyesalan itu

Lihatlah malaikat-malaikat yang selalu ada di sampingmu
Jangan kecewakan dia
Buatlah ia bahagia dengan sejuta keindahan yang kau ciptakan
Hempaskan semua keraguanmu tentang dirimu
Yakinlah pada semua cahaya yang kau miliki
Yakinlah bahwa cahaya itu akan bersinar menembus semesta

Bukan mereka yang membuatmu hebat
Namun dirimu yang mampu mengubah kegelapan itu menjadi cahaya pelangi
Cahaya yang indah di pandang namun tak menyilaukan



Tuli
Mufidatul fathiyah annabila

Ku tutup rapat semua omong kosongmu
Anganku adalah milikku
Indah bak permata saat ku genggam
Merdu bak puisi indah menyelimuti indra pendengaranku

Semua akan menjadi sebuah kisah
Yang terukir indah dalam catatan hidupku
Hinaan dan cacian yang menggores hati akan menjadi sebuah  motivasi
Yang membuatku semakin memanas dan bangkit untuk mencapai mimpi

Mimpi itu akan menjulang tinggi di langit biru
Hingga tiada yang bisa menggoncangkannya
Tumbuh dan terus meninggi sampai nafas ini musnah dan hilang

Semua kata yang keluar dari lisanmu
Takkan bisa menggoyahkan mimpiku
Telinga ini sudah tuli dengan semua ejekan miringmu tentangku


Hilang tak berarah

Mufidatul fathiyah annabila

Dalam keheningan malam
Mengisi semua seluk jiwa
Menumpahkan secercah keterpurukan
Melayang jauh hingga tak tersadar

Air mata menjadi sebuah berlian indah di dalam hati
Tetesan itu membuat jiwa ragu
Membuat semua angan musnah di bawa derasnya arus kesedihan
Putus asa menjadi sebuah kemakmuran

 Saat luka itu tertancap 
hanya dosa lalu yang ku ingat
menyesali semua yang telah ku perbuat
hingga hilang tak berarah